Bacot Gue Suka Suka Gue

Bacot Gue Suka Suka Gue
Art by @yulianzone

14 Mei 2013

Sisi Gelap Seorang Idol

Minegishi Minami
Saat ini pekerjaan menjadi seorang idol dapat dikatakan telah menjadi salah satu pekerjaan dengan jumlah penggemar terbanyak di negara ini. Dimulai dari 'serangan' Korean wave yang menjual pemuda-pemudi nan enak dipandang serta mahir menari, trend idol grup dengan jumlah anggota yang begitu banyak hingga idol grup lokal semacam SM*SH, Cherrybelle hingga JKT48. Kehadiran idol grup di Indonesia semakin menyemarakkan dunia entertaintment Indonesia dan semakin memperkaya pilihan musik untuk dinikmati.

Meski bagi para penggemar hal ini dapat dikatakan sebagai 'berkah', namun bagaimana dengan pelaku pekerjaan tersebut, sang idol itu sendiri? Karena dengan menjadi idol maka secara tidak langsung akan menjadi "milik fans" dan tidak jarang, kehilangan suatu hal yang disebut 'kebebasan'.

Meskipun secara khusus setiap manajemen idol grup memiliki peraturan yang berbeda, namun secara umum mereka pasti memiliki peraturan yang melarang sang idol untuk bertindak semaunya agar menghindari cap buruk dari para fans. Hal ini karena dalam dunia idol (khususnya dari Jepang) menganut paham "fans adalah raja".

Bila melihat usaha mereka menjadi terkenal, cukup adil apabila dikatakan bahwa sang idol merupakan milik manajemen sepenuhnya dan memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang diperbolehkan manajemen dan menjauhi hal yang dilarang manajemen. Karena idol bukanlah "artis (seniman)". Idol merupakan milik manajemen sedari mereka masuk ke manajemen tersebut, mereka kemudian dilatih agar fasih bernyanyi dan menari. Kemudian bila dirasa siap mereka akan dipromosikan kedalam sebuah idol grup atau berkarir solo.

Hal ini berbeda dengan artis (semacam musisi band atau solo) yang berjuang sendiri dari nol, mulai dari penyanyi kafe/jalanan atau bahkan 'mengemis' demi mendapatkan kontrak rekaman sebelum menjadi terkenal. Artis juga tidak (terlalu) memiliki kewajiban untuk mematuhi manajemen mereka untuk menciptakan karya agar bisa diterima pasar. Disini perbedaannya, artis (seniman) itu menciptakan karya, sementara idol itu melaksanakan karya.

L'arc~en~ciel.
Salah satu musisi band Jepang yang berkarir dari nol.

Kembali ke idol. Selain bernyanyi dan menari di hadapan fans mereka, para idol ini memiliki 'pekerjaan' lainnya. Ditengah waktu mereka yang padat untuk berlatih dan tampil di panggung, mereka juga harus 'meluangkan' waktu untuk memberikan fans-service kepada fans mereka, biasanya dari memposting foto diri mereka yang terbaru melalui jejaring sosial maupun dari event-event khusus dimana mereka bisa bertemu langsung dengan fans.

Paling terkenal (atau terpopuler) bagi fans di Indonesia tentu 48Family dengan Golden Rules mereka. Kehadiran sister grup internasional mereka ; JKT48 di Indonesia seakan membuka mata orang awam di Indonesia tentang trend idol grup negeri Sakura hingga hal-hal semacam photopack dan foto gravure.

Golden Rules milik 48Family begitu terkenal karena melarang member 48Family untuk melakukan kontak dengan lawan jenis (dalam hal ini ; laki-laki, karena semua member 48Family adalah perempuan) selain bersalaman, dilarang membalas kicauan fans secara langsung di situs jejaring sosial twitter, dilarang minum minuman keras dan berbagai hal lainnya. Semua dilakukan agar tetap menjaga image 'gadis polos' agar mampu menjaring fans.

JKT48, sister grup luar negeri AKB48.

Namun banyak orang diluar sana yang merasakan shock-culture ketika mengetahui bahwa AKB48 disana selain menghibur fans mereka dengan musik, mereka juga merilis photobook gravure. Bagi yang belum mengetahui gravure itu apa, gravure adalah pekerjaan dimana seorang model difoto menggunakan pakaian minim/pakaian renang. Semua itu agar memberikan fans-service kepada fans-fans yang (mungkin) hanya menyukai perawakan member secara fisik.

Karena hal tersebut banyak yang berpikiran bahwa JKT48 suatu saat akan menerbitkan photobook gravure juga. Mungkin iya mungkin juga tidak. Namun melihat kultur di Indonesia yang menganggap tabu hal-hal seperti itu, sepertinya JKT48 tidak akan merilis foto seperti itu. Hal ini bertujuan agar tidak kehilangan fans akibat image buruk yang mereka tampilkan. Selain itu, foto berbusana minim di negara Jepang bisa dibilang sebagai suatu hal yang wajar dan biasa disana, sebuah foto gadis berbikini di Jepang mungkin mirip dengan foto gadis berpose manis dengan baju biasa di Indonesia.

Namun kembali lagi, menjadi member 48Family dengan Golden Rules yang begitu mengikat dapat dikatakan pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini karena (meskipun telah diberikan kontrak) para idol seakan menjadi 'boneka' manajemen yang bisa mereka 'dandani' dan 'tampilkan' agar fans senang. Seperti kata teman saya @tehpocii ; idol = I just doll (saya hanya boneka).

Well, larangan untuk melakukan kontak dan terlibat cinta dengan lawan jenis bagi gadis remaja mungkin secara logika bisa dibilang pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Namun itulah 'harga' yang harus dibayar mereka yang berprofesi menjadi idol, untuk hidup 'dibawah' kendali manajemen dan selalu menyenangkan fans, mungkin tanpa mempedulikan kesehatan mereka sendiri, baik fisik maupun mental.

Jadi, sesungguhnya menjadi seorang idol itu pekerjaan yang menyenangkan atau malah membebani seseorang? Semua kembali kepada sifat dan tujuan individu tersebut menjadi idol, dan para fans 'memperlakukan' idola mereka.





Sumber :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...