Bacot Gue Suka Suka Gue

Bacot Gue Suka Suka Gue
Art by @yulianzone

15 April 2014

The Raid 2 ; Berandal. Sebuah Kekecewaan


Film The Raid bisa dibilang sebagai film Indonesia 'pertama' yang berhasil memukau pecinta film --baik di Indonesia maupun dunia--, dengan mengusung action bela diri yang sarat darah dan kekerasan membuat film pertamanya mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. Berawal dari kesuksesan film pertamanya sekuel film The Raid akhirnya dirilis tahun 2014 ini.

Namun berdasarkan opini pribadi saya, film The Raid ; Berandal kurang bisa memenuhi ekspetasi (setidaknya ekspetasi saya), berbeda dengan film pertamanya.

[ MAY CONTAIN SPOILERS ]

Film The Raid ; Redemption atau lebih dikenal dengan nama The Raid (di Indonesia) memang terkenal sebagai film yang 'hanya' menjual koreo pertarungan nan epic tanpa ada kejelasan maupun kerumitan dari sisi cerita. Namun hal tersebut juga menjadi nilai jual tersendiri film tersebut, hal ini membuat The Raid menjadi film yang cocok ditonton bagi mereka yang tidak terlalu suka mendalami cerita dalam sebuah film dan hanya mengejar kepuasan dari sisi aksinya saja.

The Raid 2 ; Berandal mencoba menambahkan unsur yang dirasa kurang dari film The Raid sebelumnya, yaitu kedalaman cerita. Apabila jalan cerita The Raid bisa dibilang hanya masuk ke sebuah apartemen yang dipenuhi kriminal dan habisi pimpinan mereka, maka cerita di The Raid 2 bisa dibilang sudah sangat jauh lebih kompleks.

Dan disini adalah bagian yang membuah saya sedikit kecewa dengan sekuel film The Raid ini.


More story, less action.

Setidaknya itu kesan yang saya tangkap setelah menonton The Raid 2 ; Berandal. Apabila di film pertama adegan aksinya begitu banyak (dan begitu cepat, plus brutal) membuat penonton harus menahan napas saking intens-nya adegan pertarungannya, dan bagian cerita bisa dibilang adalah saat dimana para penonton untuk 'catching their breath'.

Sementara di The Raid 2 ; Berandal dua hal tersebut (cerita dan aksi) seakan dibalik, cerita mendapatkan porsi yang banyak sementara adegan pertarungannya yang saya katakan 'biasa-biasa saja' --apabila dibandingkan dengan film pertama--. Menurut pendapat saya dari semua adegan pertarungan yang ada di The Raid 2 ' Berandal, hanya pertarungan terakhir yang bisa membuat adrenalin rush karena menonton film.


More weapon, less violence (?)

Mungkin kalian bingung "bagaimana mungkin penggunaan senjata membuat ke-brutal-an dalam The Raid berkurang?". Well, at least for me salah satu daya tarik The Raid adalah pertarungan tangan kosong menggunakan ilmu bela diri. Kalaupun menggunakan senjata akan terasa lebih nikmat kalau bukan menggunakan senjata yang mematikan (seperti tongkat baseball milik si Baseball Bat Man). Namun banyaknya senjata mematikan yang digunakan dalam film ini saya rasa sudah 'membunuh' seni beladiri dari film The Raid.


"Apa enaknya? Tinggal tarik pelatuk dan semua selesai. Enggak ada gregetnya."
-- Mad Dog (The Raid ; Redemption) ---

Is that Jakarta?

Poin terakhir ini bisa dipahami kalau kalian sudah pernah tahu atau merasakan kondisi (khususnya) lalu-lintas di Jakarta. Terasa aneh saja mengingat di realitas jalanan Jakarta yang rawan macet bisa digunakan untuk untuk adegan kejar-kejaran (dan ditambah baku tembak) mobil. Belum lagi adegan nyeleneh ketika Prakoso tewas. Bukan, bukan adegan ketika Prakoso tewas yang nyeleneh, tapi keanehan dimana Prakoso tewas dan sekitarnya 'berhiaskan' salju. Bagian Jakarta mana yang bersalju???


Killing people in plain sight (Kota Tua) and no one give a damn about it.


The Raid 2 ; Berandal memang film bagus, tulisan saya diatas hanya untuk mengekspresikan kekecewaan saya karena menurut saya film The Raid ; Berandal ; 2 kurang bisa membawakan ciri khas yang diciptakan The Raid ; Redemption sebelumnya. Bisa dibilang film The Raid ; 2 ini seperti more Hollywood movie, less The Raid.

Do you agree (or disagree) with me?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...