Bacot Gue Suka Suka Gue

Bacot Gue Suka Suka Gue
Art by @yulianzone

3 Oktober 2013

Hari Batik Nasional, Sebuah 'Kado' Dari Malaysia

Pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu adalah hari bersejarah dalam sejarah budaya Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan seni fashion tradisional. Hari itu adalah hari dimana batik yang sebelumnya sempat diklaim Malaysia menjadi budaya khas mereka, akhirnya disahkan UNESCO sebagai budaya asli milik Indonesia.

Tidak hanya itu, tanggal 2 Oktober kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat Indonesia tetap ingat, sadar dan bangga akan salah satu kesenian tradisional Indonesia tersebut.

Namun bila menilik secara luas, sebenarnya Indonesia (mungkin masih) membutuhkan klaim dari negara lain atas kekayaan negara ini. Karena kebanyakan dari masyarakat Indonesia kerap melupakan budaya asli mereka dan terkesan lebih menyukai budaya asing.


Bila berkata jujur, sebelum Malaysia mengklaim batik sebagai budaya mereka, penggunaan batik di Indonesia bisa dikatakan terbatas kepada generasi tua atau pakaian yang digunakan ke event-event tertentu, semisal acara pernikahan seseorang. Kesadaran rakyat Indonesia --khususnya generasi muda-- terhadap batik pada saat itu bisa dikatakan sangat minim.

Namun ketika Malaysia melakukan klaim terhadap batik, rakyat Indonesia kemudian beramai-ramai, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa mulai menggunakan batik dan berkoar-koar (kebanyakan di media sosial) dan mengatakan bahwa batik adalah milik Indonesia, sedangkan Malaysia tak lebih dari sekedar (maaf) 'pencuri'.

idol grup Korea SNSD yang mengenakan pakaian batik.

Setelah UNESCO memenangkan Indonesia atas Malaysia dalam soal kepemilikan batik tersebut, maka popularitas batik di mata rakyat Indonesia mendadak menjadi sangat penting. Bahkan bisa dikatakan setelah kejadian tersebut, batik merupakan salah satu trademark dari Indonesia di mata dunia internasional.

Meskipun pada prakteknya masih banyak orang yang enggak/malas menggunakan batik pada kegiatan sehari-hari mereka, namun dengan dibuatnya Hari Batik Nasional setidaknya sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi ingin memiliki baju bermotif batik, minimal satu untuk digunakan pada hari tersebut.

Namun meskipun sudah pernah merasakan sulitnya memenangkan 'pertarungan' atas klaim negara lain akan budaya tradisional kita, sebagian rakyat Indonesia tampaknya masih memberlakukan tindakan tidak peduli terhadap budaya tradisional asal Indonesia lainnya. Sebenarnya masih banyak budaya asli Indonesia yang mungkin suatu saat akan diklaim negara lain, semisal dari hal fashion seperti kain songket dan tenun, atau permainan tradisional semisal panjat pinang dll.

Bayangkan apabila nanti negara lain melakukan klaim atas permainan tradisional Indonesia, sebut saja galasin (galah asin) sebagai contoh. Permainan tradisional Indonesia ini sebenarnya mirip dengan permainan tradisional asal Filipina patintero, namun mungkin sedikit berbeda di aturan permainan.

Patintero, olahraga tradisional di Filipina
Anggaplah apabila suatu saat (semoga saja tidak) ada negara lain yang mengklaim galasin sebagai budaya negara mereka, apa seluruh rakyat Indonesia harus turun ke jalan untuk memainkan permainan tradisional ini? Sedangkan kita tahu sendiri bahwa di beberapa bagian dari Indonesia lahan bermain untuk anak-anak serta semakin tertariknya generasi baru Indonesia dengan gadget membuat permainan tradisional semacam galasin menjadi makin terlupakan.

Sebenarnya apabila generasi muda Indonesia menganggap permainan tradisional tersebut sebagai permainan yang 'kuno' bisa kita katakan sah-sah saja. Dengan kemajuan teknologi saat ini serta semakin berkembangnya permainan virtual (yang memang selalu mengalami perkembangan) tentu lebih menarik dibanding permainan tradisional yang bisa dikatakan 'itu-itu saja'.

Pola pikir generasi lama dengan generasi baru tentu tidak bisa disamakan, karena mereka juga hidup di situasi lingkungan dan perkembangan teknologi dan kultur yang berbeda juga. Mungkin perlu dilakukan penyegaran terhadap budaya maupun permainan tradisional yang sudah ada di Indonesia hingga tidak terasa 'tradisional' lagi. Karena pada hakikatnya kata tradisional itu kerap diasosiakan dengan kata 'kuno' maupun 'ketinggalan jaman'.

Gasing
Salah satu cara mempopulerkan budaya Indonesia dan menghilangkan kesan 'kuno' dari kata tradisional itu bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan menyelipkan kesenian tradisional tersebut --apalagi fashion tradisional-- dalam kebudayaan/trend modern, contoh saja negara Jepang yang kerap memasukkan unsur tradisional mereka dalam anime/manga/dorama mereka yang sudah mendunia.

Perpaduan budaya tradisional (kimono) dengan budaya modern (artwork manga/anime) di negara Jepang.
Untuk budaya tradisional Indonesia bertipe olahraga semisal galasin, panjat pinang atau balap karung, pemerintah/komunitas tertentu di daerah bisa membuat sebuah kompetisi bergengsi dengan untuk memperebutkan hadiah. Seperti kepopuleran olahraga cricket di Amerika atau futsal yang awalnya dipandang sebelah mata di Indonesia namun telah menjadi salah satu olahraga favorit saat ini.

Karena dengan membuat sebuah kompetisi bergengsi, akan banyak orang yang tertantang untuk menjadi yang terbaik dan membuat mereka semakin giat berlatih, yang berarti juga membantu mempopulerkan olahraga tradisional tersebut. Karena pada dasarnya, setiap laki-laki memiliki sifat kompetitif yang tidak ingin kalah dengan yang lainnya, apalagi di sebuah ajang yang bergengsi.

Akhir kata kita sebenarnya tidak butuh negara lain melakukan klaim terhadap budaya tradisional negara kita sendiri sebelum berbondong-bondong untuk berkoar-koar bahwa itu merupakan hak milik kita, toh pada kenyataannya beberapa 'barang' milik Indonesia yang diklaim negara klaim kebanyakan merupakan 'barang' yang sebelumnya tampak diabaikan oleh sebagian besar masyarakat negeri ini.

Membuat budaya tradisional dengan tampilan modern mungkin bisa menjadi solusi untuk tetap mempopulerkan budaya negara sendiri di generasi baru. Tidak harus mengganti total budaya tradisional tersebut, namun lebih kepada memodifikasinya agar generasi baru tertarik karena merupakan trend yang dekat dengan mereka.

Lebih baik menyesuaikan budaya agar bisa dinikmati dan dilestarikan oleh para generasi baru ketimbang harus menunggu negara lain mengambilnya dari kita kan? Karena lain kali mungkin negara ini tidak seberuntung ketika memperjuangkan batik sebagai budaya negara, bisa saja suatu saat nanti akan ada negara yang melakukan klaim terhadap budaya Indonesia dan berhasil.

Karena melestarikan budaya tradisional Indonesia tidak harus selalu membuat seseorang menjadi 'kuno', dan melestarikannya tidak selalu membuat budaya tersebut tidak bisa untuk di-modern-kan.


Sumber gambar ;


6 komentar:

  1. kadang kita emang suka nyia-nyiain apa yang kita punya, tapi kita bakal ngerasa apa yang kita punya itu berharga kalo udah ada orang lain yang ngakuin. hadeehh...

    BalasHapus
  2. yap, benar. semoga kita bisa bangun tidur sebelum padi menjadi kering... :)

    BalasHapus
  3. ya emang indo itu gak pernah perduli sama budaya nya , giliran dah di rebut sama negara lain baru deh pada kepo

    BalasHapus
  4. Itulah indonesia, selalu mengabaikan kebudayaan yang ada.
    Tapi klo udah direbut negara lain. Barulah bertindak.
    Begitupun gue sich. Hee

    BalasHapus
  5. sungguh indah kenangan permainan tradisional jaman dulu
    agen tiket online
    jasa iklan massal

    BalasHapus

Dapat berkomentar menggunakan G+ namun mohon maaf tidak memperbolehkan akun anonim.

Sangat terbuka dengan segala macam komentar, apalagi yang bisa membangun untuk kemajuan blog ini.

Tidak disarankan untuk melakukan copas (copy-paste) terhadap segala tulisan di blog ini karena sewaktu-waktu dapat dilaporkan kepada DMCA Google yang menyebabkan blog si plagiat dapat dihapus dalam kondisi terparah.

Akhir kata, terima kasih sudah berkomentar ^^v

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...